Perayaan Kelulusan

Pagi tadi, saat aku sedang kuliah online, sekilas kulihat dari ekor mata, adikku dalam posisi menatapku—ingin mengatakan sesuatu. Berhubung aku sedang merekam voice note ke temanku, dia mengurungkan niat mengatakannya. Dipenghujung rekaman suaraku, adikku menyela “Mba, pinjam HP yang itu (sambil menunjuk HP hitam di sampingku)”. HP itu dipinjamkan oleh temanku. Biar tau fitur HP flagship, katanya.  HP ini sudah cukup berumur, namun performanya belum uzur. Eh, kok malah bahas HP sih. Aku kan mau cerita adekku.

“Izin install SIKU ya, Mba?”. SIKU adalah aplikasi sistem informasi milik SMP-nya adekku. Dan yap, hari ini pengumuman kelulusan sekolah menengah pertama. Hal yang terlintas dibenakku adalah apa yang ditungguin?  di mana letak deg-degannya?  wong nggak ujian nasional.

Tapi itu hanya terlintas sekilas saja. Selebihnya aku tetap ikutan mendramatisir suasana. “Woaaa, jam berapa Dek pengumumannya?”, “Trus trus, nilai yang keluar apa aja?”, “Pasti lulus, semoga nilainya bagus!” dan kalimat lainnya. Kasian sih, harusnya tahun ini jadi memorable year karena hura-hura kelulusannya. Jauh-jauh hari, adekku dan teman-temannya membeli kain untuk dresscode wisuda, juga pesan selempang ala miss universe . Bedanya, tulisan di selempang adekku adalah Dubes Ambyar, Dubes Bucin, dan sebagainya. Emang alay, tapi toh sekadar buat seru-seruan . Aku juga pernah muda wkwk (Suer deh, kalau kalian scrolling blog ini, bakal nemu alay-nya aku jaman SMP haha).

Aku jadi ingat, saat pengumuman kelulusan SD, aku nggak mau diantar ke sekolah naik motor. Pagi harinya aku memilih ngontel sepeda ke sekolah. Lupa persisnya kenapa. Mungkin karena grogi, takut, plus deg-degan nilainya nggak bagus (kan kalau naik motor potensial diomelin pas boncengan dalam perjalanan pulang hihi). Sebelum UN aku sempat request ke ibu, kalau nilaiku bagus (parameternya rata-rata nilai 9), aku mau beli eskrim double dutch. Jaman itu si eskrim lagi hype abiss. Iklannya menggoda, namun ukurannya yang jumbo (belum ada mini pack kayak sekarang) dan harganya yang mahal (seingatku 40 ribu kala itu), membuatku nggak bisa seenaknya minta dibelikan.

Hari itu, ibuku dan orangtua teman-temanku dikumpulkan pihak sekolah di aula. Kami anak-anaknya hanya harap-harap cemas di luar ruangan. Beberapa saat kemudian, ibuku keluar, memberikan amplop berisikan nilai Ujian Nasional, dan UANG 50 RIBU! Yes, mimpiku beli double dutch tercapai! Terimakasih Ya Allah, batinku. Tanpa ganti seragam dulu, aku langsung ngontel ke Alfamart, senangnya.

Cerita kelulusan saat SMP cukup berbeda. Karena aku tinggal di asrama—jauh dari rumah, pengumuman kelulusan tidak dihadiri orangtua. Kami sendiri yang menerima amplop langsung dari sekolah. Setelah itu, secara bergantian, orangtua menelepon ke telepon asrama, menanyakan hasil belajar anak-anaknya. Perayaan pasa kelulusan SMP, aku dan teman kelasku memutuskan liburan bersama. Super dramatis kala itu. Aku sebagai ketua kelas merasa tidak sanggup mengiyakan kemauan temanku berlibur ke luar DIY. Ya gimana mau nyanggupin, ini liburan inisiatif sendiri tanpa ada pendampingan orangtua ataupun pihak sekolah. Aku nggak bisa njamin apa-apa. Pada akhirnya aku menawarkan opsi muncak ke Gunung Api Purba Nglanggeran, dan mereka sepakat, walau yang fix ikut hanya 14 orang.

Ada cerita lebay disini. Saat itu aku belum pernah muncak. Bahkan lupa perbedaan ketinggian bukit dan gunung. Sebelum liburan, aku rempong banget nyari kontak persewaan sleeping bag, memastikan teman-temanku aman bermalam di puncak Nglanggeran. Juga mengontak pihak Nglanggeran untuk menyewa tour guide selama pendakian. Beberapa waktu setelah itu aku baru menyadari, bahwa Nglanggeran nggak ada apa apanya untuk mendaki, alay betul sampai membawa sleeping bag. Duh, Za!

Pagi hari di Pantai Siung, setelah muncak dari Nglanggeran
Pagi hari di Pantai Siung, setelah muncak dari Nglanggeran
(ps. Editan foto temanku saat kelas 3 SMP) 


Eh, udah lah KSBB-nya.  Lewat cerita ini aku cuman mau bilang, mungkin kita punya keberuntungan berbeda dalam merayakan kelulusan. Saat SMP, aku bisa merayakan dengan jalan-jalan. Tapi sekarang, berbeda keadaannya, bahkan untuk keluar rumah saja butuh kehati-hatian.

Tenang ya, Dek! Tahun ini tetap memorable. Ingat, bagaimana usahamu buat belajar. Bahkan biar suasana lebih kondusif, kamu merubah cat kamar yang sebelumnya oren jadi biru. At least biar kamarnya lebih terang untuk belajar. Di pojok meja belajar, kamu juga menempel reminder biar lebih semangat. Di tahun ini juga, aku punya kesempatan lebih lama di rumah. Aku lihat, gimana inisiatifmu buat nyoba hal baru, terutama masak-masak cemilan. Juga buat urusan “perawatan”, mbakmu ini kalah. Jarang maskeran, dan sering keluyuran. Pantes mukaku kusam wkwk. Aku belajar dari kamu. Kamu hebat. Semoga kedepan, makin belajar banyak hal dan membentuk dirimu, pribadi baikmu, dan kebermanfaatanmu.  Ayo, rayain kayak waktu aku SD aja, beli eskrim!

 

Selamat atas kelulusannya.

Sembari tetap sabar menunggu bulan Juli, menagih janji HP baru dari Bapak :)

Komentar