Berkendara
Mengawali tahun baru dengan sibuk.
Pukul 00.10 aku terbangun. Biasanya, ketika tinggal di kost Jogja, memang sengaja ku setting alarm dini hari (tepatnya pukul 01.00). Barangkali aku terlelap cepat, namun ada pekerjaan yang belum ku tuntaskan. Kalau di rumah, jurus menghidupkan alarm seingkali tidak berhasil. Kalau ngelilir, aku akan kembali menarik slimut. Namun tidak dengan pagi ini, setelah terbangun, aku dengan sigap langsung membuka laptop. Ada deadline laporan praktikum. Sudah kucicil kemarin maghrib sebelum acara bakar-bakar daging menyambut tahun baru.
Ya, deadline. Sebenernya sudah ditugaskan sejak sepekan yang lalu. Tapi ya beginilah, aku mengidap penyakit yang sebenarnya umum diderita orang-orang: sukanya menunda, deadliners. Malam itu terasa berat dan penat. Mungkin otakku sudah tahu bahwa ini libur, namun memaksakan diri mengerjakan tugas. Hal ini menyebabkan aku mengerjakannya dengan setengah hati. Ditambah laptop yang entah kenapa malam itu menjadi lemot. Agaknya dia mengkode minta cuti libur tahun baru.
Sembari menunggu, blank-loading si laptop, sesekali kusempatkan menjatuhkan pandangan ke handphone oppoku, membuka Whatsapp, memastikan apakah masih tertera tulisan online pada chat seseorang yang jadi tempatku bercerita. Antara riang dan muram melihat tulisan online di sana. Gembira karena dia online, dia ada. Ingin ku jahil menelponnya, tapi ku urungkan. Pasalnya, dia sedang berkutat dengan pekerjaannya. Lembur beberapa waktu belakangan. Ini sisi yang membuatku muram melihat tulisan online. Bahwa dia masih terjaga. Entah kapan rehatnya.
Selain perkara online, ada lagi yang membuatku menghela nafas panjang. Notifikasi full storage di HP. Selalu begitu, ada waktunya si HP minta dibersihkan. Dan sudah biasa ku factory reset disetiap pergantian semester.
Baik laptop asusku maupun HP oppoku sudah menunjukkan tanda tanda penuaan. Masi prima namun kalau diibaratkan manusia, mulai beruban dan organ-organnya melemah. Keyboard laptop satu persatu hurufnya tidak bekerja, yang mendorongku untuk menggunakan keyboard eksternal. Sesekali membuka aplikasi dan auto-back ke home screen HP, tidak sanggup membuka aplikasinya. Tapi gapapa, aku menikmatinya. Aku sungguh ingin ditemani sampai lulus oleh mereka berdua. Mereka punya kenangan yang kuat. Laptop pemberian sekolah yang diberikan pada saat wisudaku, sedang HP pemberian ibu secara tak terduga pada saat selesai ospekku.
Bapak menjanjikan tiket "belanja besar" untukku di bulan Desember 2020. Namun apalah daya, pandemi membuatku segan untuk meminta ulang. Karena harus lebih menghemat. Lagi pula, anggaran untuku bulan Desember kemarin, sepertinya sudah dialihkan untuk biaya skripsiku.
Walau nyaliku bisa dibilang seperti kentos dalam kelapa (read : nyali kecil) untuk membuat permintaan, tapi beruntungnya tetap ada saat-saat aku mendapatkan kejutan materil. Bapak menukarkan motorku yang secara fisik masih prima. Hal ini karena si motor sudah 3x membawa malapetaka dikeluarga. "Wes ra beres motore". Walaupun ngga mengada-ngada dan ngga percaya hal yang tak tampak nyata, ada benarnya untuk mencegah kehilangan nyawa.
Selama perjalanan 4 tahun perkuliahan ini, terhitung udah 3x aku ganti motor. Pertama, jaman maba aku naik Mio merah. Motor yang terbilang lama dan awet di tangan ibu. Si Mio ini jadi temen kerja rodi angkat-angkat banyak barang. Yang paling kuingat urusan jas Distro sama air mineral kanjur. Momen menegangkan bareng si mio ini kalau pas lewat rel kereta api, suka tiba-tiba mati sendiri. Mak jegagik!
Tunggangan keduaku adalah Beat hitam. Kita mulai menjalin chemistry bersama sejak semester 4 kalau ndak salah. Lagi-lagi motor ini bukan baru ditanganku, melainkan udah dipakai ibu sebelumnya. Seingatku, baru satu atau 3 bulan ku bawa, kita dihadapkan peristiwa besar. Aku kecelakaan muehehe. Sampai rompol motornya, sampai pakai kruk pengendaranya. Ada bagian jari kaki yang cuil waktu itu. Di kaki kiri juga ada luka yang belum hilang dan bila kesenggol masih nyeri sampai sekarang.
Dan yang saat ini sama aku adalah si Genio navy. Aku cukup exited waktu memilih dia. Pasalnya joknya luas banget, dengan dashboard yang dalam yang memungkinkan sarung tanganku ga lagi terbang wkwk. Pijakan kakinya juga cukup luas buat angkut-angkut barang. Motor ini terbukti membantuku ngangkut banyak barang dimomen-momen pindah kontrakan. Dan belum lama, aku merasa hebat karena bisa membawa seglondong kain yang tingginya sepintu itu. Kupeluk kain itu, sesekali menyetir satu tangan sembari sesekali menjaga keseimbangan.
Rasanya aku bukan orang yang begitu terobsesi buat ganti barang. Kalau ada rejeki dan sekiranya perlu diganti ya alhamdulillah. Terlepas dari ganti motor 3x yang setelah kupikir aduhay terasa hedonnya, aku menyadari sesuatu hal. Bahwa membawa motor alias berkendara adalah kesenanganku.
Aku sangat menikmati pekerjaanku di distro dan kanjur. Betapa hepi-nya mendapat giliran beli aqua yang banyak dan berat-berat. Betapa menyenangkannya berpergian ke Gunung Sempu menenteng puluhan jas di depan dan belakang motor. Aku senang mengirim paket ke ekspedisi, walaupun terik sekalipun. Aku senang menusuri ringrioad pergi jauh ke Cebongan demi bertemu seseorang Pastinya, selain senang bertemu dengannya, aku menikmati momen perjalanannku).
Momen berkendara membuatku tenang dan membaik. Ketika aku stress, banyak pikiran, aku akan membiarkan diriku pergi, terutama ke tempat yang sejuk. Berkendara melihat pematang sawah menjadi sesuatu yang mewah kala pikiran sedang buruk dan penuh amarah. Menerabas rintik hujan, juga sore hari memutari Jalan Hayam Wuruk ke Lempuyangan. Bahkan aku pernah, menangis sedari tulisan selamat jalan dari kota wonosari sampai kids fun.
Aku sempat ditegur temankku, "tidak baik emosi, dan berpikir sambil berkendara". Karena memang berbahaya. Namun ini kekuatanku. Dan aku membutuhkannya untuk menambal hari burukku.
![]() |
| Genio navy - motor ke 3. Penampakan ban habis ngetrail di Bantul |
![]() |
| Beat hitam - motor ke 2. Kerusakan pasca kecelakaan |
![]() |
| Nasib kaki pasca tragedi :) |
![]() |
| Mio merah - motor 1. Mengangkut jas Distro |







Komentar